Senin, 02 November 2015

Rahasia Dara



            Bukannya aku ingin berburuk sangka kepada Dara, tetapi memang kenyataannya dia selalu pergi bersama Retno setelah pulang sekolah. Aku memang tidak tau apa yang mereka lakukan, tetapi berjalan berdua saja itu akan menimbulkan prasangka buruk kepada mata siswa lain.
            “Kamu sama Retno ada hubungan apa, Dar?” Tanya Lita, teman sebangkunya. Aku yang duduk dibelakang mereka bisa mendengar apa yang mereka katakan.
            “Engga ada,” Jawab Dara. Biasa saja.
            Beberapa hari setelah itu, gosip menyebar dimana – mana, bahwa Dara berpacaran dengan Retno. Jujur, aku yang menyukai Dara, sangat terluka mendengarnya.
                                                            ***
            Aku menyukai Dara? Tidak, mungkin kau salah baca.
            Tapi pada kenyataannya, aku selalu memperhatikan Dara. Tuhan selalu biarkan aku rindu sama senyuman manisnya, Tuhan juga selalu biarkan angin malam kirimkan salam  ke Dara.
            Tapi aku gengsi mengakui semua itu, setelah tahu kalau Dara sama Retno itu pacaran. Aku sebagai cowok sejati enggak pernah galau-meski sebetulnya begitu. Dengan sejuta jurus aku bakal tutupin ke-galau-an itu.
            Yo, back to story..
                                                            ***
            Setiap pulang sekolah, kedua mataku selalu merekan kejadian, Dara dan Retno pulang bersama. Hari ini ganjil, mereka pulang ke arah tempat yang sepi. Benakku mulai berburuk sangka. Teman – temanku juga begitu.
            Besoknya, masih sama. Mereka pulang ke jalan itu. Semakin hari gosip nya semakin memanas. Hingga berita hina juga terlontarkan dari mulut – mulut sicentil.

            Minggu kemarin Retno tidak sekolah, saat itu Retno sakit demam. Aku dan Tyo membuntuti Dara dari belakang. Dia menuju ke jalan yang selalu ia lewati dengan Retno.
            Lalu, ia sampai pada suatu tempat. Hamparan rumput hijau yang luas. Lapangan sepak bola. Awalnya kami berfikir dia akan bermain bola. Tendang sana, tendang sini.
 Tetapi, dugaan kami salah.
            S A L A H
            A
            L
            A
            H
Dia menyimpan tas ranselnya. Lalu ia tutup tas ransel itu dengan jaket rajut berwarna biru tua. Kami yang melihat dia melalui semak-semak diujung lapangan terkejut, ketika Dara terjun ke lapangan.
Dia berlari. Berlari sebanyak lebih dari sepuluh putaran. Kami bingung akan hal itu. Apa yang dara lakukan?  
Itu kejadian minggu kemarin. Kejadian itu selalu aku pikirkan. Hingga malam ini.
                                                ***
Sosok cewek yang aku suka dari dulu-mungkin pas SD-ternyata kuat juga. Bahkan, tenaganya-bisa dibilang-setara sama cowok. Sosok yang suka jadi bahan bully-an, yang jadi bahan gosip banyak orang, yang enggak pernah-mungkin belum, bahkan enggak-nangis. Ternyata dia bareng Retno cuma sekedar lari. Bukan pacaran atau berbuat hal negatif.
                                                ***
            Esoknya, aku dan Tyo sepakat untuk mengikuti Dara lagi. Sama seperti hari kemarin, Dara melalukan hal itu lagi. Kami berfikir, karena tidak ada Retno jadi Dara melakukan hal itu. Akhirnya kami semakin penasaran.
            Retno mengalami demam yang parah. Hamppir dua minggu dia tidak masuk sekolah.
            Hingga Retno sembuh, kami masih ingin tau apa yang terjadi antara mereka berdua. Sepulang sekolah, seperti  biasa, aku dan Tyo mengikuti Dara-dan Retno.
            Hal yang Dara lalukan sama. Dia lari mengelilingi lapangan sepak bola yang sangat luas. Retno hanya diam melihat Dara, sesekali dia memainkan handphonenya.
            Besoknya, aku dan Tyo mengikuti lagi. Kejadiannya sama.
            Hingga hampir sebulan kami mengikutinya.
            “Lang, kamu sadar enggak, sih? Kalau Dara emang enggak berbuat yang tidak baik.” Ujar Tyo, ketika kami pulang, selepas mengintai Dara.
            “Tapi gue ragu, Yo. Gue ingin tahu, apa yang mereka lakukan kedepannya.” Aku masih penasaran.
            “Jangan gila, Elang!” Seru Tyo. Tyo sudah memahami, bahwa Dara melalukan lari lebih dari sepuluh putaran, tanpa henti. So, tidak ada hal ganjil yang terjadi.
            “Besok aku masih mau mengintai. Kalau kamu tidak mau, aku bisa pergi sendiri.” Aku tetap bersikeras.
            Aku tepati janjiku sendiri. Aku tetap kesana meski sendirian. Dan hal yang terjadi sama seperti kemarin.
            Aku masih belum mengerti, untuk apa Dara melakukan itu. Semua terlihat baik – baik saja. Tidak ada hal ganjil yang selalu dikatakan oleh siswa sekolah.
            Hari ini aku akan memecahkan gosip – gosip yang tidak enak didengar itu.
            “Yo, kamu sudah lihat kan, bahwa Dara hanya lari sepuluh-lebih-putaran?” Tanyaku, saat istirahat. Tyo mengangguk, sambil menyeruput es kelapa yang ia pesan.
            “Gimana kalau kita buktiin ke teman – teman kita kalau Dara tidak seperti yang mereka katakan.” Aku berusul seperti itu. Tyo setuju.
            “Oke, langkah awal kamu harus bisa bujuk Karin, untuk ikut bersama kita.” Usul Tyo.
            “Kenapa harus Karin, sih?” Aku kurang setuju.        
            “Karena Karin, adalah orang yang dipercaya oleh semua orang. Karin juga kan suka sama kamu, Lang. Jadi, gampang untuk membujuknya.” Tyo nyengir kuda setelah menjelaskan rencanannya.        
            Akhirnya hari ini aku ajak Karin. Beruntung dia mau. Aku perlihatkan Dara yang sedang berlari. Dengan gigih dia lari sebanyak lima belas putaran. Karin terkesima. Dan dia menyesal pernah percaya kepada teman – teman di sekolah.
            “Aku harus beritahu teman – teman. Terimakasih ya, aku pasti akan tuntas habiskan Hirata dan kawan – kawannya yang membuat berita tidak bermutu.” Ujar Karin. Menyebutkan nama si raja gosip itu. 
            Besoknya gosip itu berhenti. Rasa penasaranku masih ada. Akhirnya ku beranikan diri untuk menanyakan kepada Dara.
            Saat bel pulang telah dibunyikan. Semua siswa tumpah ruah keluar kelas. Ketawa-ketiwi seolah beban mereka telah usai. Tapi beban di hatiku masih ada, dan kali ini aku tidak akan membatalkan niatku, aku harus berani menanyakan itu pada Dara.
            “Dara.” Aku panggil dia, ketika kelas sudah benar benar kosong.
            “Ada apa?” Ujarnya lembut. Baru kali ini aku dengar suaranya. Lalu aku langsung menanyakan, saat itu juga. Tidak pakai basa-basi.
            “Sebetulnya, apa yang kamu lakukan tiap pulang sekolah?” Nada bicaraku sedikit gemetar-takut Dara tersinggung.
            “Aku hanya ingin mulut mereka berhenti bicara tentang kondisi fisikku. Kamu juga tahu, kalau aku tidak setinggi teman – teman disini. Bahkan jika dibandingkan denganmu, aku harus menaiki kursi ini terlebih dahulu, agar tinggi kita sama, ha..ha..” Ujar Dara. Sambil tertawa penuh kepalsuan. Aku yakin, dia sangat terluka bicara seperti itu, dan aku yakin hatinya teriris ketika aku tanyakan hal itu.           
            “Jadi kamu pengin tinggi?” Aku bertanya dengan spontan.
            “Yap, betul,” Ujarnya.
            “Dia juga mengikuti les renang di management pamanku,” Ujar Retno, tiba-tiba datang.
            “Coba anak-anak itu memikirkan dulu apa yang akan dikatakannya, mungkin Dara enggak akan nangis tiap aku telepon. Mungkin Dara tidak akan meminta aku untuk menemaninya berlari. Coba saja jika mereka tidak mengolok – olok ketinggian Dara, mungkin Dara tidak akan susah payah menabung hanya untuk membayar tagihan les renang. Coba jika semua manusia berfikir dulu sebelum berkata, mungkin Dara tidak berjuang sejauh ini,” Retno berapi-api menjelaskannya. Retno yang kukenal sangat pendiam ternyata punya dendam mendalam pada semua yang sudah menjadikan Dara sebagai bahan perolokan.
            “Retno sudahlah!” Bentak Dara. Sepertinya Dara ingin merahasiakan semua itu.
            Aku menelan ludah. Dan aku juga memikirkan, bahwa Dara benar-benar tidak kuasa menahan ucapan kotor dari teman-temannya. Hingga sebesar itukah perjuangannya?
            “Aku minta maaf.” Ini bukan suaraku.
            “Kami minta maaf.”  Ini juga bukan suara ku. Suara ini berasal dari belakang kami bertiga. Seperti paduan suara, seirama.
            Aku, Dara, dan Retno menengok ke arah pintu kelas.
            Disana ada Karin, Hirata, dan kawan-kawannya.
            “Kami minta maaf atas ucapan kami,” Ujar Hirata, malu akan semua yang sudah ia lakukan.
            “Iya, santai aja kali,” Ujar Dara.
            Akhirnya semua rahasia Dara terungkap sudah.
            Setelah semua sudah terungkap, Hirata dan kawan-kawannya selalu menyapa Dara, mengajaknya untuk pergi ke kantin bersama, mengajaknya ke toko buku, dan Hirata tidak pernah memperolok Dara lagi.
                                                            ***

            Teman, dari pengalamanku ini, aku mendapat sebuah pembelajaran. Bahwa kita sebagai manusia jangan asal bicara. Berfikirlah sebelum berkata. Terimakasih sudah mau membaca.