Bukannya
aku ingin berburuk sangka kepada Dara, tetapi memang kenyataannya dia selalu
pergi bersama Retno setelah pulang sekolah. Aku memang tidak tau apa yang
mereka lakukan, tetapi berjalan berdua saja itu akan menimbulkan prasangka
buruk kepada mata siswa lain.
“Kamu sama
Retno ada hubungan apa, Dar?” Tanya Lita, teman sebangkunya. Aku yang duduk
dibelakang mereka bisa mendengar apa yang mereka katakan.
“Engga
ada,” Jawab Dara. Biasa saja.
Beberapa
hari setelah itu, gosip menyebar dimana – mana, bahwa Dara berpacaran dengan
Retno. Jujur, aku yang menyukai Dara, sangat terluka mendengarnya.
***
Aku menyukai
Dara? Tidak, mungkin kau salah baca.
Tapi pada
kenyataannya, aku selalu memperhatikan Dara. Tuhan selalu biarkan aku rindu
sama senyuman manisnya, Tuhan juga selalu biarkan angin malam kirimkan
salam ke Dara.
Tapi aku
gengsi mengakui semua itu, setelah tahu kalau Dara sama Retno itu pacaran. Aku sebagai
cowok sejati enggak pernah galau-meski sebetulnya begitu. Dengan sejuta jurus
aku bakal tutupin ke-galau-an itu.
Yo, back to
story..
***
Setiap
pulang sekolah, kedua mataku selalu merekan kejadian, Dara dan Retno pulang
bersama. Hari ini ganjil, mereka pulang ke arah tempat yang sepi. Benakku mulai
berburuk sangka. Teman – temanku juga begitu.
Besoknya,
masih sama. Mereka pulang ke jalan itu. Semakin hari gosip nya semakin memanas.
Hingga berita hina juga terlontarkan dari mulut – mulut sicentil.
Minggu
kemarin Retno tidak sekolah, saat itu Retno sakit demam. Aku dan Tyo membuntuti
Dara dari belakang. Dia menuju ke jalan yang selalu ia lewati dengan Retno.
Lalu, ia
sampai pada suatu tempat. Hamparan rumput hijau yang luas. Lapangan sepak bola.
Awalnya kami berfikir dia akan bermain bola. Tendang sana, tendang sini.
Tetapi, dugaan kami salah.
S A L A H
A
L
A
H
Dia menyimpan tas ranselnya. Lalu
ia tutup tas ransel itu dengan jaket rajut berwarna biru tua. Kami yang melihat
dia melalui semak-semak diujung lapangan terkejut, ketika Dara terjun ke
lapangan.
Dia berlari. Berlari sebanyak lebih
dari sepuluh putaran. Kami bingung akan hal itu. Apa yang dara lakukan?
Itu kejadian minggu kemarin. Kejadian
itu selalu aku pikirkan. Hingga malam ini.
***
Sosok cewek yang aku suka dari dulu-mungkin pas SD-ternyata kuat juga. Bahkan,
tenaganya-bisa dibilang-setara sama cowok.
Sosok yang suka jadi bahan bully-an,
yang jadi bahan gosip banyak orang, yang enggak
pernah-mungkin belum, bahkan enggak-nangis.
Ternyata dia bareng Retno cuma sekedar lari. Bukan pacaran atau berbuat hal
negatif.
***
Esoknya,
aku dan Tyo sepakat untuk mengikuti Dara lagi. Sama seperti hari kemarin, Dara
melalukan hal itu lagi. Kami berfikir, karena tidak ada Retno jadi Dara
melakukan hal itu. Akhirnya kami semakin penasaran.
Retno mengalami
demam yang parah. Hamppir dua minggu dia tidak masuk sekolah.
Hingga
Retno sembuh, kami masih ingin tau apa yang terjadi antara mereka berdua.
Sepulang sekolah, seperti biasa, aku dan
Tyo mengikuti Dara-dan Retno.
Hal yang
Dara lalukan sama. Dia lari mengelilingi lapangan sepak bola yang sangat luas.
Retno hanya diam melihat Dara, sesekali dia memainkan handphonenya.
Besoknya,
aku dan Tyo mengikuti lagi. Kejadiannya sama.
Hingga
hampir sebulan kami mengikutinya.
“Lang, kamu
sadar enggak, sih? Kalau Dara emang enggak berbuat yang tidak baik.” Ujar Tyo,
ketika kami pulang, selepas mengintai Dara.
“Tapi gue
ragu, Yo. Gue ingin tahu, apa yang mereka lakukan kedepannya.” Aku masih
penasaran.
“Jangan
gila, Elang!” Seru Tyo. Tyo sudah memahami, bahwa Dara melalukan lari lebih
dari sepuluh putaran, tanpa henti. So,
tidak ada hal ganjil yang terjadi.
“Besok aku
masih mau mengintai. Kalau kamu tidak mau, aku bisa pergi sendiri.” Aku tetap
bersikeras.
Aku tepati
janjiku sendiri. Aku tetap kesana meski sendirian. Dan hal yang terjadi sama
seperti kemarin.
Aku masih
belum mengerti, untuk apa Dara melakukan itu. Semua terlihat baik – baik saja.
Tidak ada hal ganjil yang selalu dikatakan oleh siswa sekolah.
Hari ini
aku akan memecahkan gosip – gosip yang tidak enak didengar itu.
“Yo, kamu
sudah lihat kan, bahwa Dara hanya lari sepuluh-lebih-putaran?” Tanyaku, saat istirahat.
Tyo mengangguk, sambil menyeruput es kelapa yang ia pesan.
“Gimana
kalau kita buktiin ke teman – teman kita kalau Dara tidak seperti yang mereka
katakan.” Aku berusul seperti itu. Tyo setuju.
“Oke,
langkah awal kamu harus bisa bujuk Karin, untuk ikut bersama kita.” Usul Tyo.
“Kenapa
harus Karin, sih?” Aku kurang setuju.
“Karena
Karin, adalah orang yang dipercaya oleh semua orang. Karin juga kan suka sama
kamu, Lang. Jadi, gampang untuk membujuknya.” Tyo nyengir kuda setelah menjelaskan rencanannya.
Akhirnya
hari ini aku ajak Karin. Beruntung dia mau. Aku perlihatkan Dara yang sedang
berlari. Dengan gigih dia lari sebanyak lima belas putaran. Karin terkesima.
Dan dia menyesal pernah percaya kepada teman – teman di sekolah.
“Aku harus
beritahu teman – teman. Terimakasih ya, aku pasti akan tuntas habiskan Hirata
dan kawan – kawannya yang membuat berita tidak bermutu.” Ujar Karin.
Menyebutkan nama si raja gosip itu.
Besoknya
gosip itu berhenti. Rasa penasaranku masih ada. Akhirnya ku beranikan diri
untuk menanyakan kepada Dara.
Saat bel
pulang telah dibunyikan. Semua siswa tumpah ruah keluar kelas. Ketawa-ketiwi
seolah beban mereka telah usai. Tapi beban di hatiku masih ada, dan kali ini
aku tidak akan membatalkan niatku, aku harus berani menanyakan itu pada Dara.
“Dara.” Aku
panggil dia, ketika kelas sudah benar benar kosong.
“Ada apa?”
Ujarnya lembut. Baru kali ini aku dengar suaranya. Lalu aku langsung
menanyakan, saat itu juga. Tidak pakai basa-basi.
“Sebetulnya,
apa yang kamu lakukan tiap pulang sekolah?” Nada bicaraku sedikit gemetar-takut
Dara tersinggung.
“Aku hanya
ingin mulut mereka berhenti bicara tentang kondisi fisikku. Kamu juga tahu,
kalau aku tidak setinggi teman – teman disini. Bahkan jika dibandingkan
denganmu, aku harus menaiki kursi ini terlebih dahulu, agar tinggi kita sama,
ha..ha..” Ujar Dara. Sambil tertawa penuh kepalsuan. Aku yakin, dia sangat
terluka bicara seperti itu, dan aku yakin hatinya teriris ketika aku tanyakan
hal itu.
“Jadi kamu
pengin tinggi?” Aku bertanya dengan spontan.
“Yap,
betul,” Ujarnya.
“Dia juga
mengikuti les renang di management
pamanku,” Ujar Retno, tiba-tiba datang.
“Coba
anak-anak itu memikirkan dulu apa yang akan dikatakannya, mungkin Dara enggak akan nangis tiap aku telepon. Mungkin
Dara tidak akan meminta aku untuk menemaninya berlari. Coba saja jika mereka
tidak mengolok – olok ketinggian Dara, mungkin Dara tidak akan susah payah
menabung hanya untuk membayar tagihan les renang. Coba jika semua manusia
berfikir dulu sebelum berkata, mungkin Dara tidak berjuang sejauh ini,” Retno
berapi-api menjelaskannya. Retno yang kukenal sangat pendiam ternyata punya
dendam mendalam pada semua yang sudah menjadikan Dara sebagai bahan perolokan.
“Retno
sudahlah!” Bentak Dara. Sepertinya Dara ingin merahasiakan semua itu.
Aku menelan
ludah. Dan aku juga memikirkan, bahwa Dara benar-benar tidak kuasa menahan
ucapan kotor dari teman-temannya. Hingga sebesar itukah perjuangannya?
“Aku minta
maaf.” Ini bukan suaraku.
“Kami minta
maaf.” Ini juga bukan suara ku. Suara
ini berasal dari belakang kami bertiga. Seperti paduan suara, seirama.
Aku, Dara,
dan Retno menengok ke arah pintu kelas.
Disana ada
Karin, Hirata, dan kawan-kawannya.
“Kami minta
maaf atas ucapan kami,” Ujar Hirata, malu akan semua yang sudah ia lakukan.
“Iya, santai
aja kali,” Ujar Dara.
Akhirnya
semua rahasia Dara terungkap sudah.
Setelah
semua sudah terungkap, Hirata dan kawan-kawannya selalu menyapa Dara,
mengajaknya untuk pergi ke kantin bersama, mengajaknya ke toko buku, dan Hirata
tidak pernah memperolok Dara lagi.
***
Teman, dari
pengalamanku ini, aku mendapat sebuah pembelajaran. Bahwa kita sebagai manusia
jangan asal bicara. Berfikirlah sebelum berkata. Terimakasih sudah mau membaca.